Masihkah Dinasti Atut Diperbolehkan Ikut Penjaringan Pilwali Tangsel 2020

Jakarta,TB- Saudara termuda mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, kembali memantik perhatian public. Wawan didakwa melakukan pencucian uang semenjak 2005 sampai 2013 dengan nilai sekitar Rp579,776 miliar.

Terdapat dua dakwaan pencucian uang Wawan. Pertama, dakwaan periode 2010—2019.

’’Wawan pada tanggal 22 Oktober 2010 hingga dengan September 2019 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu antara 2010 dan 2019,’’ kata jaksa penuntut umum (JPU) KPK Subari Kurniawan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (1/11).

Uang yang diduga disamarkan dalam periode 2010—2019 mencapai Rp479.045.244.180 dalam mata uang rupiah dan mata uang asing.

Uang tersebut digunakan Wawan untuk membeli tanah, membiayai istrinya Airin Rachmi Diany dalam Pilkada Tangerang Selatan pada 2010—2011, sampai biayai Pilkada Banten untuk kakaknya Ratu Atut Chosiyah.

’’Patut diduga akibat tindak pidana korupsi berkaitan dengan pekerjaan terdakwa selaku kontraktor yang dapat mengatur proyek-proyek di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten bersama-sama Ratu Atut Chosiyah selaku Gubernur Banten,’’ jaksa menambahkan.

Atas perbuatannya Wawan didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang yang diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 perihal Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHP mengenai tindak pidana pencucian uang aktif dengan ancaman penjara maksimal 20 tahun dan denda Rp10 miliar.

Kedua, dakwaan pencucian uang dalam kurun waktu 2005—2010 sebesar Rp 100.731.456.119. Uang tersebut digunakan Wawan untuk membeli kendaraan sampai membiayai pilkada ketika Ratu Atut Chasiyah maju di Pilkada Serang.

“Pada tanggal 10 Oktober 2005 sampai dengan tanggal 21 Oktober 2010 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu antara 2005 dan 2010,” tambah jaksa. (Bentuk pencucian uang lihat grafis).

Dalam dakwaan ini, Wawan didakwa dengan Pasal 3 Ayat (1) huruf a, c, dan g UU No. 15/2002 perihal Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana diubah dengan UU No. 25/2003 jo. Pasal 65 Ayat (1) KUHP dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun kurungan dan denda Rp15 miliar.

Dugaan Korupsi Alkes

Wawan juga diduga melakukan korupsi terkait pengadaan alat kedokteran rumah sakit rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten APBD 2012, pengadaan tanah pada Biro Generik dan Perlengkapan Setda Pemprov Banten, dan proyek alat kesehatan kedokteran umum Puskesmas Kota Tangerang Selatan APBD-P 2012. Selain itu, proyek pembangunan RSUD Tangerang Selatan dan sejumlah puskesmas di Tangerang Selatan pada 2010–2012. Dalam kurun waktu 2005–2012, Wawan diduga mendapat keuntungan sampai Rp1.724.477.455.541.

’’Terdakwa melalui perusahaan yang dimilikinya dan perusahaan lain yang terafiliasi menerima keuntungan dari proyek-proyek yang dimiliki atau dikuasai terdakwa atau penghasilan tidak sah dari beberapa proyek di beberapa SKPD Provinsi Banten dan sekitarnya,’’ ungkap jaksa.

Selain itu, Wawan juga mendapat keuntungan dari proyek pengadaan tanah di Sekretariat Kawasan Pemprov Banten yang diduga sudah ia atur sebelumnya. Ia diduga mendapat keuntungan sekitar Rp109.061.902.000 miliar dari hal tersebut.

Dari keuntungan-keuntungan yang didapat Wawan itu kemudian diduga terjadi pencucian uang dengan banyak sekali bentuk. Berikut bentuk pencucian uang Wawan yang disebut di dakwaan dalam kurun waktu 2010—2019:

1. Menempatkan atau mentransfer sejumlah uang yang berasal dari tindak pidana korupsi pada rekening-rekening atas nama orang lain, atas nama terdakwa sendiri, perusahaan miliknya sendiri, ataupun perusahaan-perusahaan di bawah kendali Wawan. Total ada 37 rekening dengan saldo seluruhnya Rp 39.936.162.800,45

2. Mengalihkan kepemilikannya satu kendaraan beroda empat BMW 320i AT E90 senilai Rp235.000.000 dan satu bidang tanah dan bangunan seluas 138 meter persegi dan 279 meter persegi di Perumahan Alam Sutera senilai Rp2.356.163.000.

3. Membelanjakan atau membayarkan pembelian 48 kendaraan beroda empat dan truk serta 1 motor Harley Davidson dengan jumlah keseluruhan Rp59.107.665.626.

4. Membelanjakan atau membayarkan pembelian tanah dan bangunan dengan jumlah keseluruhan Rp228.942.969.091 dan AUD 3.782.500.

5. Pembayaran dua polis asuransi jiwa X-Tra Optima dengan saldo seluruhnya Rp8.579.502.567,64.

6. Membiayai keperluan Airin Rachmi Diany dalam Pilkada Tangerang Selatan 2010—2011, di antaranya sejumlah Rp2.900.000.000.

7. Membuat Surat Perjanjian Pemborongan Pembangunan SPBE kepada PT Mustika Tri Sejati dengan nilai perjanjian pemborongan senilai Rp7.710.000.000.

8. Membiayai Ratu Atut dalam Pemilihan Gubernur Banten 2011, di antaranya sejumlah Rp3.828.532.762.

9. Mengajukan kredit BNI Griya Multiguna sebesar Rp 22.453.700.000.

10. Mengajukan biaya proyek/modal kerja ke BNI sebesar Rp57.000.000.000 dan Rp4.000.000.000.

11. Menyewakan satu unit apartemen berikut dengan perabot di dalamnya di Mega Kuningan kepada Nasser Al Khaldi untuk masa sewa 2 tahun dengan harga per tahun 60.000 dolar AS atau sekitar Rp 786 juta.

12. Menyimpan uang di Kantor PT Bali Pasific Pragama Gedung The East Lantai 12 senilai Rp 68.499.000; USD 4,120; AUS 10; SGD 1,656; GBP 3,780.

13. Menyimpan uang akibat operasional SPBE atas nama PT Java Cons sebesar Rp2.545.615.790.

14. Menyimpan uang akibat operasional SPBU atas nama PT Java Cons sebesar Rp3.300.000.000.

Ditegaskan jaksa bahwa patut diduga akibat tindak pidana korupsi berkaitan dengan pekerjaan terdakwa selaku kontraktor yang dapat mengatur proyek-proyek di lingkungan Pemprov Banten dan pengadaan tanah di Pemprov Banten bersama-sama Ratu Atut Chosiyah selaku Gubernur Banten. Karena, penghasilan terdakwa dari perusahaan-perusahaan yang dimilikinya berdasarkan SPT badan tahunan tidak sebanding dengan asal usul perolehannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sah oleh terdakwa.

Atas perbuatannya, Wawan didakwa dengan Pasal 3 atau 4 UU No. 8/2010 perihal Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

Jika melihat sepak terjang Wawan adik Atut melihat begitu banyak Tuntutan Korupsi ,sudah selayaknya para tokoh di Tangsel menyetop segala bentuk intervensi Dinasti Atut berkiprah dalam pembangunan Tangsel Ke depan .baik itu dalam Pemerintahan Daerah apalagi Mencalonkan sebagai Peserta Pilkada Serempak 2020 nanti

Diduga kuat perbuatan merugikan masyarakat tangerang selatan yang dilakukan Wawan di sinyalir adanya kaitannya dengan kebijakan walikota Tangerang Selatan yang juga isterinya bahkan disebutkan mengetahui sepak terjang Wawan selama melakukan aksi korupsi yang dilakukannya di Tangerang Selatan

Mirisnya pergantian kursi birokras dipemerintahan Tangerang Selatan adalah bentuk pesanan sang suami (Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan) untuk mempermudah menjalankan aksi korupsinya.

Berdasarkan informasi dilapangan adanya pengakuan dari beberapa pejabat dilingkungan pemerintahan mengatakan jika adanya pameo dua walikota di Tangerang Selatan.

Seperti disampaikan salah satu pegawai pemerintahan kota Tangerang Selatan yang enggan ditulis namanya mengakui jika adanya perubahan kebjjakan jika sudah berada dalam keputusan malam harinya mengenai proyek proyek di Tangsel *Dz/Ft/Pur

14 Total View 1 Today View

TerasBanten

INFORMASI AKURAT DAN BERIMBANG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *