Maha Karya Untuk Bangsa 74 Tahun Syakh Al Zaytun

Terasbanten.id – Dengan cara pandangnya yang tak biasa- “Life Begins at 70”, membuat eksistensi beliau di usia 70-an benar-benar semakin menunjukkan taringnya.

Kesehatannya, kebugarannya, kepiawaiannya, serta kinerjanya mengiringi semua karya-karyanya untuk Bangsa dan Negara Indonesia Raya.

Bahkan boleh dikatakan berita positif di negara ini di masa krisis multidimensi akibat pandemi hanya berasal dari beliau atas geliatnya yang tak pernah berhenti memenuhi amanah Maha Karya Al Zaytun- persembahan untuk negeri.

Gayanya sudah seperti pemimpin-pemimpin negara yang hebat saat memutuskan untuk melockdown kampusnya. Berbagai upaya segera ia penuhi untuk Cegah Covid-19 di lingkungan kampusnya. Alhasil civitasnya zero case. Adapun kematangan sikap itu datang dari kebiasaannya mengukur kapasitas urusan dalam negeri kampusnya. Ia pastikan persediaan sandang, pangan, papan semua cukup, sebab selama ini memang telah terbiasa untuk tidak ketergantungan dengan pihak lain di luar kampus.

Soal pangan, ia bahkan bisa berbagi bantuan kemanusiaan kepada ribuan warga desa di sekitar Pondok Pesantren Al Zaytun hingga ke perbatasan Kota Subang, Sumedang, dan Cirebon. Paket bantuannya berisi 10 kg beras, 1 liter minyak goreng, sebungkus garam, sekotak teh dan 1 kg gula pasir.

Tak hanya protokol kesehatan WHO yang segera diterapkannya bagi civitas Al Zaytun, namun detil-detil cara manusia dalam mendongkrak imunitas tubuh terbaik begitu cepat ia pikirkan. Orang pandai takkan terjerumus dalam kegamangan soal vaksin Covid-19 yang tak jua ditemukan. Sejak awal ia yakin dengan keputusannya untuk mewajibkan vaksinasi influenza bagi seluruh civitasnya. Syaykh pula mengedukasi sebuah pola baru dalam hadapi pandemi yang harus ditaati oleh civitas, seperti pola makan, pola tidur, pola menjaga kebugaran dan pola penjagaan lingkungan. Hingga makanan terbaik di dunia dalam hitungan hari diawal pandemi ia persiapkan untuk para santri.

Syaykh sebut, “Makanan Gaya Nabi”. Ada produksi roti gandum yang gandum utuhnya hasil dari lahan sendiri. Menurut ilmu gizi, kualitas gandum diatas beras. Maka sejak pandemi, civitas Al Zaytun berhenti makan nasi, dan diganti dengan roti gandum atau yang di sebut oleh civitasnya, si Roti Kangen.

Lalu kemana stok beras berton-ton yang tersimpan apik di Istana Beras Al Zaytun? Alhamdulillah berkat memiliki persediaan gandum utuh dan komitmen mengganti asupan beras, maka berasnya mengalir ke rumah-rumah warga masyarakat pada bulan Ramadhan kemarin. Welas Asih Al Zaytun untuk Bangsa dan Negara, walau tanpa berita tetapi nyata.

Kembali ke makanan gaya nabi. Selain mengganti karbohidratnya, lauknya pun diganti. Biasanya para santri makan lauk berupa ikan atau ayam yang biasa dikonsumsi oleh umum, tapi di masa pandemi lauk diganti dengan ikan Tuna besar yang bobotnya mencapai 50-75kg per ekor yang dibeli dari perairan laut dalam Maluku.

Pertanian dan perkebunan Al Zaytun di masa pandemi beberapa kali mengalami panen. Panen pisang, pepaya, sorgum, gandum, tebu, bawang dan lain-lain dengan hasil yang menggembirakan.

Daftar bahan makanan di Al Zaytun telah mencukupi kebutuhan harian gizi. Dari jenis bahan makanan pokok, lauk-pauk, bumbu dapur, buah-buahan, sayuran dan produk susu. Inilah buah kepiawaian Syaykh Al Zaytun dalam menghasilkan sumber pangan dari lahan milik sendiri. Andaikan bangsa Indonesia mengandalkan kinerja beliau untuk mengelola keseluruhan alam Indonesia, boleh jadi negara ini berpotensi menjadi Negara Agropolitan nomor satu di dunia.

Hal yang menarik dari pribadi syaykh, orang bisa jadi bertanya-tanya bagaimana caranya eksis berkegiatan di masa pandemi? Ia tak liburkan para santri dari sekolah. Ia tak rumahkan ribuan karyawannya. Ia terus menggarap lahan-lahan hijaunya. Ia tetap tegakkan sholat berjama’ah. Ia juga lanjutkan pembangunan tahap akhir Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin dan Menara Pemuda Perdamaian yang keduanya merupakan bangunan sekelas peradaban dunia.

Tak sedikit yang geleng-geleng kepala menyaksikan kepiawaian beliau mengatur civitasnya dengan segala protokol kesehatan sehingga kegiatan apapun di kampusnya yang besar tak ada kata berhenti. Semua hal baik di Mahad Al Zaytun terus berlangsung sebagaimana biasanya. Baginya berkegiatan adalah laksana titian perjalanan doa yang tak boleh berhenti.

Kecerdasan intelektual dan spiritual yang belum ada tandingannya. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan profil seorang syaykh yang mau berjibaku menyelamatkan para santri agar tidak tersiksa mentalitasnya dengan pembelajaran di rumah, agar tetap terlindungi kesehatannya, agar tetap terjaga interaksinya dengan sesama teman.

Bandingkan dengan kerinduan anak-anak di luar Al Zaytun untuk bisa kembali ke sekolah- mendapat hak pengajaran dari guru dan bisa berinteraksi dengan teman, tak kehilangan kesempatan dalam mengembangkan diri. Belum lagi adanya efek serius yang mengancam kesehatan mereka di kemudian hari semisal kebutaan dini akibat belajar online berjam-jam dalam sehari dan telah berlangsung berbulan-bulan.

Begitupun dengan karyawan yang justru syaykh tambah, bukan dikurangi apalagi di PHK. Sistem volunteer pun diberlakukan bagi civitas yang mau berpenghasilan saat masa pandemi. Bandingkan dengan jutaan tenaga kerja yang menjadi korban PHK? Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Berbulan-bulan kesulitan ekonomi bagai tak berujung solusi. Yang bertakhta hanya sibuk umumkan korban pandemi, tapi tak cukup sibuk gulirkan solusi untuk hentikan pandemi dan selamatkan nyawa rakyat yang bukan cuma karena virus tapi karena kelaparan dan penyakit efek kemiskinan lainnya.

Beliau tak gentar saat harus liburkan para santri yang sudah tak tahan rindu. Syaykh tunaikan kebutuhan ruhani para santri sejenak merasakan hangatnya kasih sayang keluarganya. Padahal untuk sambut kedatangan mereka kembali, ia harus merogoh kas lembaga puluhan milyar rupiah untuk membuat fasilitas Cegah Covid-19 semisal puluhan washtafel dan toilet portable, alat penyemprot desinfektan dan lain-lain. Menyiapkan armada bus khusus penjemputan santri bahkan membangun jalan baru JAMMASS sebagai jalur khusus para santri yang kembali ke Mahad Al Zaytun.

Sudahkah kita mendengar ada pemimpin yang “sebegitunya” menyiapkan segala protokol kesehatan secermat Syaykh Al Zaytun?

Mengapa syaykh bisa fokus dalam upaya menyelamatkan para santri dan civitasnya, juga mendidik para wali santri secara luas agar mau memasuki orde hidup baru dengan penuh kesadaran? Sebab upayanya tanpa pencitraan dan kepentingan politik. Bahwa apa yang dilakukannya murni menyelamatkan sesama umat manusia.

Di masa sulit, ia tak pinta bantuan pada manusia, tapi topo brotonya adalah caranya untuk meminta pertolongan yang besar dari Tuhan. Syaykh Al Zaytun mengetuk pintu langit dan mengetuk Arsy Tuhan dengan jalani tirakat shaum selama setahun. Maka Syaykh dan civitas Al Zaytun adalah sekumpulan manusia yang paling sibuk di masa pandemi ini, sibuk berkebaikan kepada sesama manusia dan sibuk bermunajat kepada Sang Maha Kuasa.

Syaykh..
Bagaimana caranya engkau juga bisa mengajarkan para pemimpin bangsa ini agar memiliki kepiawaian dalam menyelamatkan rakyat? Rakyat butuh perhatian pada kesehatan, keselamatan dan ekonomi yang semakin sulit. Rakyat lelah menunggu ketidakpastian tentang hidup di hari esok. Juga tentang pendidikan anak-anaknya yang tak diperjuangkan seperti apa yang engkau lakukan pada santri-santrimu?

Bolehkah kutambah doa topo brotomu, Syaykh?
Allahumma Yaa Allah, Jadikanlah Syaykh Al Zaytun pemimpin bagi Bangsa dan Negara ini agar kami selamat, sehat dan sejahtera.
Walhamdulillahirobbil’alamiin..

Barokallahu fii umrik, Syaykh!
Dari Ade Chan- Sang Debu yang Setia.

2 Total View 2 Today View

TerasBanten

INFORMASI AKURAT DAN BERIMBANG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *