
TERASBANTEN.ID, TANGSEL — Camat Setu Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Erwin Gemala Putra mengaku turut prihatin terhadap maraknya tawuran remaja yang terjadi di wilayahnya. Menurutnya, perkembangan media sosial menjadi salah satu pemicu utama munculnya konflik antar kelompok remaja hingga berujung aksi tawuran. Rabu 20/5/2026.
Erwin mengungkapkan, kelompok remaja tersebut biasanya saling terhubung melalui jejaring media sosial. Mereka membuat aktivitas malam hari seperti konvoi motor secara beramai-ramai, lalu diunggah menjadi konten di media sosial masing-masing.
“Biasanya mereka berjejaring lewat media sosial. Mereka naik motor rame-rame lalu diposting di status media sosial. Dari situ kemudian dilihat kelompok lain dan terjadi saling ejek sampai akhirnya tersulut emosi,” ujar Erwin.
Menurutnya, konflik yang awalnya hanya sebatas saling sindir di media sosial kemudian berkembang menjadi ajakan bertemu di suatu lokasi untuk melakukan tawuran antar kelompok remaja.
“Kadang mereka janjian di satu tempat lalu terjadilah tawuran. Bahkan kebanyakan mereka membawa senjata tajam seperti celurit, kelewang, dan sejenisnya,” katanya.
Ia menambahkan, beberapa kejadian tawuran sebelumnya bahkan menyebabkan korban mengalami luka serius akibat senjata tajam.
“Ada korban yang sampai mengalami luka robek. Ini sangat berbahaya karena bisa menghilangkan nyawa,” ungkapnya.
Erwin juga menyebut sebagian remaja yang diamankan sebelumnya ternyata pernah terlibat kasus serupa. Namun pengaruh lingkungan pergaulan dan jejaring kelompok membuat mereka kembali terlibat.
Karena itu, pihak Kecamatan Setu berupaya melakukan pendekatan langsung kepada para remaja dan keluarganya guna memutus rantai tawuran tersebut.
“Tadi malam kami kumpulkan anak-anak itu, kami kasih pengertian, kesadaran, dan pembinaan bahwa tawuran ini merugikan banyak orang dan membahayakan diri mereka sendiri,” jelasnya.
Menurut Erwin, mayoritas pelaku masih berusia pelajar, mulai dari tingkat SMP hingga SMA. Bahkan ada juga yang sudah putus sekolah.
Ia juga menemukan adanya pola kebiasaan tertentu yang memicu anak-anak keluar rumah pada malam hari. Banyak dari mereka merupakan pelajar sekolah siang yang tidur setelah Magrib lalu terbangun sekitar pukul 22.00 WIB dan tidak bisa tidur kembali.
“Awalnya mereka main handphone, kemudian bosan di rumah dan akhirnya keluar untuk berkumpul dengan teman-temannya,” katanya.
Erwin mengatakan pihaknya telah mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama pada malam hari. Bahkan pihak kecamatan telah menyebarkan flyer kepada masyarakat agar anak-anak sudah berada di rumah maksimal pukul 22.00 WIB.
Dirinya berharap peran keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan aparat wilayah dapat diperkuat agar para remaja lebih terarah pada kegiatan positif dan tidak lagi terlibat tawuran maupun geng motor./h3n .


