TANGSEL

Dihadiri Dindikbud dan DCKTR hingga Anggota Dewan, Warga Setujui Pembangunan SMPN 26 Jombang

Jurnalis : Hendra Jaya

TANGERANG SELATAN, TERASBANTEN.ID — Rencana pembangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 26 Jombang Ciputat, mendapat dukungan warga sekitar. Hal tersebut terungkap dalam rapat sosialisasi pembangunan yang dihadiri jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), lurah Jombang , serta anggota DPRD Kota Tangerang Selatan dan warga terdampak pembangunan di RT 05/RW 17, Kelurahan Jombang Ciputat Sabtu 12/9/2026.

Rapat tersebut digelar untuk menyampaikan tahapan rencana pembangunan sekaligus mendengar masukan masyarakat yang berada di sekitar lokasi pembangunan SMPN 26.

Dalam pertemuan itu, warga menyatakan setuju dengan rencana pembangunan sekolah. Dukungan tersebut disampaikan dengan harapan keberadaan SMPN 26, nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sarana pendidikan di wilayah Jombang dan sekitarnya.

Kepala Bidang (Kabid) SMP Negeri Dindikbud Tangsel Eka Andreas mengatakan, pembangunan SMPN 26, akan dilakukan melalui dua tahapan. Tahap pertama yakni pembongkaran bangunan yang direncanakan berlangsung pada November hingga Desember 2026 melalui anggaran perubahan.

Sementara pembangunan fisik gedung sekolah baru direncanakan masuk dalam anggaran murni 2027 dan ditargetkan mulai dikerjakan pada Januari 2027.

“Pembangunan SMP ini akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pembongkaran yang direncanakan pada November dan Desember 2026 melalui anggaran perubahan. Kemudian pembangunan fisik gedung sekolah masuk dalam anggaran murni 2027 dan ditargetkan mulai Januari,” ujar Eka Andreas Kabid SMP Dindikbud Tangsel.

Ia menambahkan, dalam rapat bersama masyarakat, rencana pembangunan SMPN 26 mendapat respons positif. Warga pada prinsipnya menyatakan persetujuan terhadap pembangunan sekolah tersebut.

“Dalam rapat bersama warga, semuanya menyatakan setuju dengan pembangunan SMP 26 ini. Tentunya kami akan terus berkoordinasi agar pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembangunan DCKTR Tangsel, Maryoto, menjelaskan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah OPD terkait untuk mempersiapkan tahapan pembangunan.

Menurut Maryoto, pembongkaran bangunan harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pembangunan gedung sekolah baru. Mekanisme pembongkaran juga memiliki pencatatan aset dan penganggaran tersendiri.

“Dalam tahapan pembangunan, tentunya harus dilakukan pembongkaran bangunan terlebih dahulu. Setelah kami koordinasikan dengan OPD yang menangani perencanaan dan aset, ternyata pencatatannya berbeda antara anggaran pembongkaran dengan pelaksanaan pembangunan,” jelasnya.

Selain tahapan pembongkaran, DCKTR juga telah melakukan survei terhadap kondisi lokasi. Salah satu perhatian utama adalah akses mobilisasi kendaraan proyek yang nantinya digunakan selama proses pembangunan.

Dia mengatakan, terdapat sejumlah titik yang perlu dikomunikasikan lebih lanjut, khususnya akses menuju lokasi pembangunan yang berpotensi menjadi kendala bagi kendaraan proyek berukuran besar.

“Ke depannya ini perlu kita komunikasikan lagi dengan yang punya lahan, bagaimana kita membuat kesepakatan sehingga dapat memperlancar pembangunan,” katanya.

DCKTR juga masih mengkaji metode konstruksi yang akan digunakan. Apabila metode pancang dinilai dapat mengganggu lingkungan sekitar, maka alternatif metode bore pile akan dipertimbangkan.

“Kalau sekiranya mengganggu lingkungan, nanti kita akan pakai bore pile. Jadi masih kita kaji lagi bagaimana teknisnya dan seperti apa kondisi di lapangan,” ujar Marwoto.

Ia menegaskan, DCKTR berfokus pada pembangunan fisik gedung sekolah. Sementara mengenai status dan pengelolaan sekolah nantinya menjadi kewenangan Dindikbud.

“Kami dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang pada prinsipnya fokus pada pembangunan fisiknya. Untuk nama atau status sekolahnya, nanti Dinas Pendidikan yang akan menentukan,” ungkapnya.

Sementara usai rapat salah seorang warga sekitar, Feri (40), warga RT 05/RW 17, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, mengatakan dirinya mendukung rencana pembangunan SMPN  26. 

Menurutnya, pembangunan sekolah tersebut merupakan hal positif bagi masyarakat sekitar, terlebih kebutuhan sarana pendidikan tingkat SMP di wilayah tersebut cukup penting.

“Kami sebagai warga tentu mendukung pembangunan SMPN 26 ini.  Dengan catatan tidak ada penggusuran rumah warga seperti isu yang berkembang kemarin , Kalau memang untuk kepentingan pendidikan dan masyarakat, kami sangat setuju,” ujar Feri.

Ia berharap proses pembangunan nantinya dapat berjalan lancar dan tetap memperhatikan kondisi lingkungan serta akses warga sekitar.

“Kami berharap selama proses pembangunan, dan tidak ada penggusuran juga akses warga tetap diperhatikan. Kalau semuanya dikomunikasikan dengan baik, saya rasa warga akan mendukung,” katanya.

Rapat sosialisasi tersebut menjadi bagian dari koordinasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mempersiapkan pembangunan SMPN 26, sekaligus memastikan proses pembangunan dapat berjalan dengan lancar dan tetap memperhatikan kepentingan warga sekitar./h3n 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button