Wawancara Standarkiaa Latif, Ketua SC Kongres Prodem ke VII dan Senator Prodem.

Jakarta,  terasbanten.id -Dalam Kongres ke VII Prodem kemarin (14/03/2020) ratusan aktivis berkumpul di Gedung Juang Menteng Raya 31 Jakarta untuk memilih Pemimpin baru dan merencanakan beberapa action plan ke depan.

Kongres yang bertema “Kembali ke Khittah Prodem ; Marilah Kita Mendoa Indonesia Bahagia” dihadiri oleh tokoh-tokoh senior aktivis pergerakan Hariman Siregar dan Rizal Ramli berlangsung hingga dini hari (15/03/2020), dan memilih Iwan Sumule dan Mujib Hermani sebagai Ketua dan Sekjen gerakan Prodem yang baru.

Redaksi disela Kongres berhasil melakukan wawancara khusus dengan Standarkiaa Latif, ketua Steering Committee (SC) merangkap salah seorang senator Prodem. Berikut di bawah ini hasil rekaman wawancara.

“Kongres prodem bisa disebut sebagai salah satu indikasi dari menguatnya kembali gerakan sipil di Indonesia. Hal itu ada benarnya. Dalam proses konsolidasi demokrasi, maka satu hal penting yang strategis adalah peran civil society atau penguatan peran sipil dalam kehidupan bernegara.
Disebutkan demikian karena dia menjadi bagian penting dalam memerankan peran kontrol atas kekuasaan. Siapapun yang berkuasa.

Idealnya proses konsolidasi itu adalah proses pelembagaan politik di tingkat suprastruktur maupun infrastruktur politik. Artinya, ada peran fungsional yang ideal dari lembaga-lembaga suprastruktur. Misalnya dari parlemen yang memainkan fungsinya secara benar atas fungsi legislasi, fungsi budgeting dan fungsi kontrol. Peran ideal itu harus terjadi.

Tetapi kita tidak bisa hanya berharap dengan Undang-undang atau aturan yang berlaku kemudian fungsi-fungsi itu otomatis akan berjalan dengan baik. Semuanya tentu harus dikontrol.
Oleh karena itu Prodem menjadi bagian strategis dari komponen civil society yang harus dijaga dan dikembangkan. Tentu saja dalam koridor-koridor yang ada.
Kalau ditilik dari sejarah pelemahan gerakan sipil di masa paska reformasi, maka bisa disebutkan bahwa “melemah” dengan “dilemahkan” adalah sesuatu yang sangat berbeda.

Jika secara subjektif kekuatan sipil dianggap melemah, maka melemahnya itu adalah karena dilemahkan. Indikasinya, terdapat faktor pragmatisme karena keadaan ekonomi yang–sebutkanlah–memburuk. Sektor-sektor produktif bisnis kebanyakan mengalami pelemahan. Situasi ini kemudian membuat sebagian orang mengambil langkah pragmatis. Terdapat pilihan-pilihan pragmatis yang diambil dengan tujuan survival secara individu.
Namun pramatisme yang terbangun dalam konteks Prodem bukanlah sekadar pragmatisme oportunis. Tapi juga mestinya memiliki idealisme kritis yang dibangun.

Dalam posisi itu Prodem sebetulnya sedang menjaga marwah atau ruh idealisme kritis itu.
Maka harus dipahami bahwa perbedaan pilihan dan pemihakan yang diambil oleh sebagian kawan-kawan Prodem itu sebenarnya adalah hakekat dari demokrasi itu sendiri. Tinggal lagi bagaimana kita mengelola perbedaan secara bijak.
Perbedaan hendaknya jangan diterjemahkan sebagai sesuatu yang buruk jika ditinjau dari sisi konfrontasi. Tetapi perbedaan haruslah dimanage menjadi sebuah kekuatan.
Di Prodem, berbagai macam arus pemikiran dan pilihan itu bertemu. Prodem punya sejarah yang panjang sejak era otoritarianisme orde baru ke era demokrasi pada 1998. Para aktivis Prodem tentu saja punya investasi dan obligasi moral yang luar biasa pada keberlangsungan demokrasi di negeri ini.

Perjalanan ke depan, perbedaan pilihan politik di antara para aktivisnya tentu saja harus dijaga agar tidak menyebabkan saling menegasikan di antara kawan seperjuangan. Itulah mengapa “kredo” yang disepakati para aktivis Prodem adalah “Politik Sekadarnya, Perkawanan Selamanya”. Yakni bagaimana melakukan konsolidasi dari keberagaman pilihan politik yang ada.

Kembali pada pertanyaan dasar tentang gerakan sipil, maka sebagai salah satu pilar demokrasi dan satu gerakan sipil, kampus melalui gerakan mahasiswa sebenarnya bukan melemah dengan sendirinya, tetapi telah dilemahkan. Tentu itu yang kami tolak.
Prodem melaksanakan kongres kali ini diantaranya adalah karena memang sudah saatnya setiap tiga tahun disepakati adanya Kongres untuk memilih Ketua dan Kepengurusan baru, termasuk para senator.

Ihwal situasi dan kondisi terakhir kenegaraan dapat dikemukakan bahwa pengelolaan negara sesungguhnya bukan sekadar sebuah political will, tetapi harus ada goodwill yang menyertainya. Kedua hal itu harus seiring sejalan.
Political will dalam proses jalannya pemerintahan hendaknya jangan hanya sekadar memproduksi kebijakan-kebijakan, Undang-undang dan regulasi lainnya. Tetapi harus dibarengi dengan adanya goodwill yang kuat. Tanpa goodwill bagi perbaikan kesejahteraan umum dan pemihakan yang jelas, maka keadaannya akan seperti yang terjadi sekarang. Adanya berbagai macam penyimpangan, kebohongan dan sebagainya.

Memproduksi kebijakan, Undang-undang dan aturan-aturan bisa lebih dikritisi dengan mengajukan pertanyaan: semua itu disusun pro kepentingan siapa, apakah kepentingan rakyat atau kepentingan asing. Kita sama-sama melihat bahwa perekonomian diperkirakan hanya tumbuh di bawah lima persen. Kalau hanya di bawah lima persen maka di dunia manapun secara teori ekonomi bisa dikatakan “negara auto pilot”. Hal itu tentu saja memprihatinkan dan berbahaya.

Jika keadaan ekonomi terus saja tidak menggembirakan maka masyarakat otomatis resah, sementara daya beli masih saja rendah. Uang hanya berputar di kalangan elit, konglomerat dan koruptor. Sementara rakyat dalam situasi memprihatinkan. Hal itu tidak adil bagi rakyat kebanyakan.

Rakyat kita semua adalah Pancasilais sejati. Jangan diragukan komitmen rakyat terhadap Pancasila. Tetapi hendaknya Pancasila jangan hanya retorika di bibir, tetapi harus diimpelementasikan dalam perilaku, sikap dan kebijakan.

Adalah hal yang tidak dapat dimengerti ketika segelintir orang dapat memiliki lahan sampai jutaan hektar luasnya, sementara rakyat terus saja mengalami kesulitan. Apakah itu yang hendak dijadikan sebagai model pembagunan Indonesia ke depan?
(Pso)

9 Total View 1 Today View

Redaksi TerasBanten

INFORMASI BERIMBANG DAN AKURAT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *