TANGSEL

Dishub Tangsel Rencanakan Sistem Satu Arah di Jalan Garut Barat untuk Atasi Kemacetan

TERASBANTEN.ID, TANGSEL — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di kawasan Jalan Garut Barat dan sekitarnya. Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Tangsel, Martha Lena, mengungkapkan bahwa kondisi lalu lintas di area tersebut telah mencapai tingkat kepadatan yang cukup mengkhawatirkan.

“Antrean kendaraan di kawasan ini bisa mencapai hingga 500 meter. Bahkan dalam catatan kami, jumlah kendaraan yang melintas di momen tertentu bisa mencapai 1.200 kendaraan,” ujarnya. Selasa (20/05).

Khusus di Jalan Garut Barat, volume kendaraan saat jam sibuk pagi — terutama saat antar siswa SMP — tercatat mencapai 1.400 kendaraan per jam. Menurut Martha, angka ini menunjukkan perlunya penanganan segera.

Sebagai langkah awal, Dishub merencanakan uji coba sistem satu arah, serupa dengan skema yang telah diterapkan di kawasan Cerendeu dan Jombang. Saat ini, persiapan tengah dilakukan, termasuk rekayasa lalu lintas dan perapian simpang jalan.

“Alhamdulillah, secara umum semua pihak cukup kooperatif. Jalan ini memang memiliki kapasitas terbatas, sementara arus kendaraan terus meningkat. Apalagi Jalan Garut Barat merupakan jalur utama dari Pondok Kacang dan Jurangmangu menuju Graha Raya, Bintaro, dan Ciledug,” jelas Martha.

Pelebaran jalan untuk saat ini belum memungkinkan dilakukan karena belum masuk prioritas pembangunan. Oleh karena itu, solusi sementara yang diambil adalah optimalisasi kapasitas jalan yang ada, antara lain melalui penerapan sistem satu arah dan penataan titik putar balik (u turn).

Dishub juga telah melakukan pengurangan titik putar balik (u turn) dari tiga titik menjadi sekitar 25% dari kondisi semula. Hal ini dimungkinkan berkat pemasangan median jalan.

“Selama jam sibuk, kendaraan dari arah tertentu tidak diperbolehkan masuk untuk mencegah benturan arus. Kita juga mendapat dukungan dari pihak Graha Raya, JRP, dan kepolisian dalam pelaksanaan uji coba ini,” tambahnya.

Martha mengakui bahwa pada awalnya banyak keluhan dari masyarakat. Namun, Dishub telah memetakan titik-titik kemacetan berdasarkan laporan warga serta pantauan di lapangan. Salah satu kendala yang sering terjadi adalah kondisi lalu lintas yang stagnan dan saling mengunci di simpang-simpang padat karena tidak adanya pengaturan arus.

“Ini bagian dari pendekatan bertahap. Kita sudah melakukan perbaikan di Jurangmangu dan hasilnya cukup baik. Tinggal pemasangan rambu dan penyesuaian di beberapa hunian,” ucapnya.

Dalam rapat terakhir yang digelar pada Minggu, Dishub juga membahas relokasi titik putar balik yang sebelumnya diarahkan ke dalam kompleks perumahan Dreamland. Karena mendapat keberatan dari warga, akhirnya disepakati penggunaan lahan milik PT KAI sebagai titik putar balik dan lokasi pedagang kaki lima (PKL). Solusi ini dinilai lebih ideal dan tidak mengganggu lingkungan perumahan.

Martha menambahkan, dokumentasi dari warga seperti video antrean kendaraan yang mencapai hingga 600 meter turut menjadi perhatian. Kondisi macet total dan saling kunci kendaraan menunjukkan pentingnya adanya pengaturan lalu lintas yang lebih baik.

“Kita mengelola persoalan ini secara bertahap dan variatif, dari yang berat, sedang, hingga ringan. Mudah-mudahan dengan uji coba nanti, hasilnya akan jauh lebih baik,” tutup Martha. /h3n.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button