TANGSEL

SSA Bikin Jalan Garut Barat Lebih Lancar: Volume Turun, Titik Konflik Menyusut Drastis

TERASBANTEN.ID, TANGSEL– Penerapan sistem Single Side Access (SSA) di kawasan Jalan Garut Barat dan Jalan AMD oleh Dinas Perhubungan Kota Tangerang Selatan terbukti memberikan dampak yang signifikan dan nyata. Berdasarkan hasil evaluasi teknis terbaru, kebijakan ini berhasil meningkatkan kapasitas jalan, mengurai kepadatan, mempersingkat antrian, dan menurunkan jumlah titik konflik lalu lintas secara drastis. Selasa (03/06).

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Tangsel, Martha Lena, secara tegas menyampaikan bahwa SSA bukan hanya sekadar rekayasa teknis, melainkan bagian dari strategi besar manajemen lalu lintas perkotaan yang berkelanjutan.

“Penerapan SSA dan penyesuaian MRLL di Jalan Garut Barat kami lakukan berdasarkan kajian mendalam. Hasilnya sangat memuaskan, karena kapasitas jalan meningkat hampir dua kali lipat, dari 1.445 menjadi 2.870 smp/jam,” jelas Martha

Lebih lanjut, Martha menambahkan bahwa peningkatan kapasitas ini berimbas langsung pada penurunan volume kendaraan dan membaiknya kualitas layanan lalu lintas (Level of Service atau LOS).

“Sebelumnya, pada jam-jam sibuk, LOS berada di level D dan E. Kini, setelah SSA diterapkan, pagi dan sore hari menunjukkan LOS B. Ini berarti lalu lintas menjadi jauh lebih lancar dan efisien,” tuturnya rinci.

Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis Dishub Tangsel, berikut perbandingan kondisi sebelum dan sesudah SSA.  Sebelum SSA, Pagi hari: Volume 1.040 smp/jam, VCR 0,75 (LOS D).
Sore hari: Volume 1.308 smp/jam, VCR 0,91 (LOS E). Setelah SSA, Pagi hari: Volume menurun jadi 939 smp/jam, VCR 0,32 (LOS B). Sore hari: Volume turun lebih dalam jadi 789 smp/jam, VCR 0,28.

“Ini bukan hanya sekadar penurunan angka. Secara langsung, warga yang melintas di kawasan tersebut kini merasakan perbedaan yang signifikan. Arus kendaraan lebih lancar, waktu tempuh lebih singkat, dan tingkat stres pengguna jalan menurun,” imbuh Martha.

Penurunan panjang antrian menjadi salah satu indikator keberhasilan kebijakan ini, Sebelum SSA, Simpang Tiga Jl. AMD – Garut Barat, Sore hari: Antrian mencapai 150 meter ke arah Pondok Kacang. Pagi hari. Antrian 110 meter ke arah Graha Raya. U-turn Mahagony, Dari arah Graha Raya: 340 meter.  Dari arah Tol Parigi: 38 meter. Setelah SSA dan MRLL Simpang Tiga Jl. AMD – Garut Barat, Pagi hari: Antrian hanya 23 meter. Sore hari: Turun drastis menjadi 14 meter. Simpang Graha Raya – Garut Barat: Tidak ada antrian. U-turn Mahagony, Dari arah Graha Raya meningkat menjadi 430 meter karena limpahan arus dari Jalan AMD dan Garut Timur. Dari arah Tol Parigi justru menurun menjadi 25 meter.

“Meski terjadi sedikit peningkatan antrian di U-turn Mahagony dari arah Graha Raya, hal itu masih dalam batas wajar. Sebab volume kendaraan yang semula menumpuk di titik konflik kini terdistribusi lebih baik,” jelasnya.

Penurunan titik konflik menjadi indikator penting dalam meningkatkan keselamatan pengguna jalan, Simpang Tiga Jl. AMD – Garut Barat: dari 9 titik konflik menjadi 4 (berkurang 55%). Simpang Empat Jl. Graha Raya – Garut Timur – Garut Barat: dari 32 titik menjadi hanya 3 (berkurang 93%).

“Dari segi keselamatan, ini adalah loncatan besar. Fasilitas jalan yang lebih tertata, arah kendaraan yang lebih terkontrol, dan volume yang lebih stabil semuanya berkontribusi terhadap pengurangan potensi kecelakaan lalu lintas,” tegas Martha.

Martha menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa penerapan SSA ini bukan titik akhir, melainkan langkah awal menuju manajemen lalu lintas yang lebih modern dan berkelanjutan.

“Evaluasi ini menjadi landasan penting untuk pengembangan sistem lalu lintas yang lebih adaptif terhadap pertumbuhan kota. Kami terus berinovasi dan berkoordinasi lintas sektor demi menciptakan Tangerang Selatan yang lebih tertib, nyaman, dan aman bagi seluruh pengguna jalan,” pungkasnya./h3n.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button