Kelangkaan Batu Pengaruhi Ritme Proyek Pembangunan di Tangsel

TERASBANTEN.ID, TANGERANG SELATAN — Penutupan sejumlah tambang batu di wilayah Parung Panjang, Kabupaten Bogor, mulai menimbulkan efek domino terhadap ketersediaan material bangunan di kawasan Jabodetabek, termasuk Kota Tangerang Selatan. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan pedagang material, tetapi juga mulai berimbas pada ritme pengerjaan proyek pembangunan di wilayah Tangsel.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangerang Selatan, Robby Cahyadi, membenarkan bahwa keterbatasan pasokan batu telah memengaruhi kelancaran sejumlah pekerjaan di lapangan.
“Ya jelas pada melambat ini. Sudah terkena dampaknya,” ujar Robby, Jumat (7/11/2025).
Ia menjelaskan, gangguan pasokan material batu menyebabkan produksi di sejumlah AMP (Asphalt Mixing Plant) dan batching plant menjadi tidak optimal. “Gangguan pasokan ini berdampak pada proses produksi AMP dan batching plant yang sudah kekurangan bahan baku,” katanya.
Selain itu, Robby juga mengungkapkan bahwa harga material mengalami kenaikan cukup signifikan akibat kelangkaan batu belah, batu koral, dan batu split. “Harga naik cukup tinggi, terutama untuk jenis batu belah dan split,” tambahnya.
Situasi ini, lanjut Robby, dapat berdampak pada penyesuaian waktu pelaksanaan proyek. Sejumlah kegiatan infrastruktur yang ditargetkan selesai pada akhir tahun berpotensi mengalami perpanjangan waktu pekerjaan.
“Kalau situasi pasokan belum pulih, mungkin ada pekerjaan yang tidak bisa selesai di akhir tahun. Kita lihat perkembangan ke depan,” ujarnya.
Sebelumnya, para pedagang material di kawasan Serpong mengaku kesulitan memperoleh pasokan batu sejak lebih dari sebulan terakhir. Mereka terpaksa mencari suplai dari daerah lain seperti Cilegon dan Pandeglang, namun pengirimannya terkendala pembatasan jam malam.
“Kalau dari Cilegon sekarang dibatasi jam malam. Jadi kirimnya nggak bisa leluasa kayak dulu,” ungkap Rifai, pemilik toko material di Serpong.
Akibat keterbatasan suplai, harga batu melonjak tajam dari kisaran Rp1,7 juta per truk menjadi sekitar Rp3,5 juta per truk.
“Harganya sekarang bisa dua kali lipat. Barang ada pun rebutan,” keluh Rifai.
Berdasarkan informasi yang beredar, sedikitnya 25 tambang batu di wilayah Parung Panjang diketahui ditutup sejak lebih dari sebulan terakhir. Penutupan tersebut kini memicu dampak berantai terhadap aktivitas konstruksi, baik di sektor swasta maupun pemerintah daerah, termasuk di Kota Tangerang Selatan./h3n.


