Turap Tiga Lokasi Tangsel Dikebut, SDABMBK Pastikan Sesuai Perencanaan

TERASBANTEN,ID TANGSEL – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus memperkuat upaya pengendalian banjir sekaligus mencegah longsor melalui pembangunan turap di sejumlah titik rawan. Jumat 3/9/2026.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangsel, Robby Cahyadi, memastikan pekerjaan turap di tiga lokasi yang ditinjau dilaksanakan sesuai perencanaan dan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Robby menjelaskan, proses pengadaan pekerjaan tersebut dilakukan melalui e-purchasing menggunakan e-katalog, sesuai dengan ketentuan pengadaan pemerintah.

“Untuk pengadaannya menggunakan e-purchasing melalui e-katalog, saat ini Katalog Versi 6. Sebagaimana amanat Perpres, prioritas pertama untuk pengadaan ini adalah melalui e-katalog,” ujar Robby.
Ia juga memastikan seluruh lokasi pekerjaan telah dilengkapi papan nama proyek. Menurutnya, keberadaan papan tersebut menjadi bagian dari keterbukaan informasi terkait pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
“Semua lokasi sudah dilengkapi papan nama proyek. Papan nama proyeknya ada di masing-masing lokasi,” katanya.
Robby menerangkan, metode penanganan pada setiap titik tidak selalu sama. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi lapangan serta kewenangan masing-masing sungai.
Salah satunya di kawasan Villa Pamulang yang berada di Kali Angke. Menurut Robby, kewenangan penuh sungai tersebut berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Karena kondisi lokasi rawan longsor, penanganan yang dilakukan Pemkot Tangsel bersifat tidak permanen dengan menggunakan bronjong batu kali.
“Kalau di Villa Pamulang, itu merupakan Kali Angke. Secara kewenangan penuh berada di BBWS. Karena lokasinya rawan longsor, dari kementerian memang hanya memperbolehkan kita melakukan penanganan yang sifatnya tidak permanen,” jelasnya.
Untuk pekerjaan di Villa Pamulang, bronjong batu kali memiliki panjang sekitar 164 meter, sedangkan parapet atau pagar sekitar 145 meter dengan ketinggian lebih dari lima meter.
Sementara di Grand Serpong, terdapat beberapa pekerjaan, yakni pembangunan turap baru setinggi empat meter sepanjang 165 meter. Kemudian peninggian turap existing menjadi empat meter sepanjang 132 meter serta pembangunan saluran pembuangan sekitar 429 meter.
Di lokasi lainnya, pembangunan turap pada sisi kiri dan kanan masing-masing sekitar 100 meter atau total kurang lebih 204 meter. Selain itu terdapat pembangunan parapet sekitar 90 meter serta pedestrian atau jalan inspeksi sepanjang sekitar 204 meter.
Pekerjaan tersebut juga dilengkapi pintu-pintu air dan sejumlah bangunan pelengkap, termasuk klep tabok.
Robby menyebut, tiga pekerjaan tersebut memiliki nilai kontrak yang berbeda. “Kalau berdasarkan kontrak, rata-rata selesai pada Desember. Ada yang kontraknya 150 hari kalender atau sekitar lima bulan, ada juga yang sekitar enam bulan atau 160 hari. Rata-rata target penyelesaiannya Desember,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kontraktor yang tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai masa kontrak akan dikenakan denda sesuai ketentuan.
“Ada denda. Besarannya satu per seribu dikali sisa pekerjaan per hari dari nilai sisa pekerjaan,” tegas Robby.
Menurutnya, tiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki persoalan yang berkaitan dengan banjir maupun longsor. Di Villa Pamulang, misalnya, longsor telah berdampak terhadap badan jalan.
“Kita lihat jalan kotanya juga sudah terdampak. Kalau tidak segera ditangani, jalannya bisa amblas dan longsor sehingga berbahaya,” katanya.
Sementara di Grand Serpong, selain terdapat titik longsor di bagian ujung, kawasan tersebut juga memiliki persoalan banjir. Dengan pembangunan turap, elevasi bangunan disesuaikan agar air tidak kembali melimpas ke kawasan permukiman.
Robby menambahkan, pengerjaan tiga proyek tersebut dilakukan oleh kontraktor yang berbeda karena berada di lokasi yang berjauhan.
Ia juga menegaskan bahwa tidak seluruh sungai berada dalam kewenangan Pemkot Tangsel. Penanganan dilakukan berdasarkan pembagian kewenangan antara pemerintah daerah dan BBWS.
“Intinya, penanganan ini dilakukan untuk mencegah longsor semakin parah. Kalau tidak segera ditangani, jalan di lokasi tersebut bisa amblas dan bergeser,” ujarnya.
Pembangunan turap tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Ketua RT 06/RW 15, Prahmono, mengatakan warga bersyukur dengan adanya pembangunan tersebut.
Menurutnya, wilayah RT 05 dan RT 06 selama ini relatif tidak terdampak banjir. Namun, pembangunan turap dinilai penting sebagai langkah antisipasi untuk jangka panjang.
“Dengan adanya pembangunan turap ini, terus terang kami melihat ke depan wilayah sini bisa lebih bebas dari banjir,” kata Prahmono.
Ia berharap pembangunan turap dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi kemungkinan limpasan atau luapan air.
“Saya rasa dengan adanya pembangunan turap ini, masyarakat sangat bersyukur sekali. Bayangkan kalau banjir, bisa berhari-hari. Dengan adanya pembangunan turap ini, ya otomatis kami mengucapkan alhamdulillah,” ungkapnya.
Prahmono juga menilai pembangunan dan peninggian jembatan di sekitar lokasi diharapkan turut membantu mengurangi persoalan banjir. “Kalau ada limpasan atau luapan dari sana, saya rasa di sini tidak akan terlalu berdampak,” pungkasnya.



