ADVERTORIALTANGSEL

DLH Kota Tangsel Perkuat Komitmen Sekolah Peduli Lingkungan Lewat Gerakan Adiwiyata

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Foto bersama Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GBLHS). Jumat (18/07) Foto Suhendra Jaya (terasbanten.id).

TERASBANTEN.ID, TANGSEL,- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), terus berkomitmen membentuk karakter peduli lingkungan hidup di kalangan peserta didik. Melalui program Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GBLHS) atau yang lebih dikenal dengan Adiwiyata, DLH Tangsel mendorong seluruh sekolah, dari PAUD hingga SMA/sederajat, untuk aktif dan berperan dalam upaya pelestarian lingkungan. Jumat (18/07).

Kegiatan sosialisasi program ini kembali digelar dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan, seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, serta para pengelola sekolah di seluruh wilayah Kota Tangsel juga dihadiri Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel Doni Herawan, Nugroho Widi Pamungkas, selaku Pembina Adiwiyata Kota Tangsel. Bertempat di Ruang Lengkong Pemkot Tangsel lantai 4. Jumat (18/07).

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Tangsel
Doni Herawan, menyampaikan bahwa GBLHS merupakan gerakan pembiasaan yang bertujuan membangun karakter peserta didik agar sadar dan peduli terhadap lingkungan hidup secara konsisten dan berkelanjutan.

“Sekolah berbudaya lingkungan hidup adalah sekolah yang menerapkan gerakan pembiasaan perilaku ramah lingkungan secara kolektif, sadar, berjejaring, dan berkelanjutan. Ini bukan lomba. Gerakan ini bersifat progresif, bukan selesai dalam satu kali kegiatan,” tegas Doni.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah mengeluarkan regulasi berupa Peraturan Wali Kota Nomor 9 Tahun 2016 tentang Program Sekolah Adiwiyata, yang mewajibkan seluruh sekolah mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA/sederajat untuk mengikuti program ini.

Namun demikian, Doni menyatakan bahwa regulasi tersebut akan segera disesuaikan dengan kebijakan nasional terbaru. Sebab, saat ini nomenklatur “Adiwiyata” telah diperbarui menjadi Gerakan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GBLHS) sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Insyaallah tahun ini akan kami rumuskan penyesuaian regulasi agar semua sekolah di Tangsel wajib mengikuti penilaian GBLHS. Secara teknis dan prosedural, hari ini kita sosialisasikan. Mulai dari indikator hingga praktik lapangannya,” ungkapnya.

Dalam implementasinya, program GBLHS menekankan pengelolaan lingkungan sekolah yang meliputi aspek kebersihan, sanitasi, pengelolaan sampah berbasis 3R hingga 5R, penghijauan, efisiensi energi dan air, serta edukasi pelestarian lingkungan kepada seluruh warga sekolah.

Doni menambahkan bahwa program ini juga sejalan dengan upaya Pemkot Tangsel dalam menangani permasalahan sampah, terutama di sektor hilir. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif sekolah untuk membantu pemerintah menekan volume sampah dari hulu hingga ke sekolah sebagai bagian dari ekosistem masyarakat.

“Kami sedang menyiapkan sistem pengelolaan sampah modern. Ke depan, kita akan memiliki insinerator untuk memusnahkan sampah yang tak terkelola. Tapi tetap, kuncinya ada di perubahan perilaku. Dari rumah, ke TPS, lalu ke sekolah. Semua harus terlibat,” katanya.

Sementara itu, Nugroho Widi Pamungkas, selaku Pembina Adiwiyata Kota Tangsel, menekankan bahwa yang paling penting dalam program ini adalah membentuk karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan, bukan semata-mata mengejar penghargaan atau gelar Adiwiyata.

“Jangan dulu berpikir soal biaya, anggaran besar, atau berapa juta yang dibutuhkan. Fokus dulu pada hal yang paling dasar—membangun kepedulian murid terhadap lingkungan dari kebiasaan-kebiasaan kecil,” ucapnya memotivasi peserta sosialisasi.

Ia mencontohkan hal sederhana seperti kebiasaan mematikan lampu kelas setelah pelajaran selesai, atau membuang sampah ke tempatnya. Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari aksi kecil yang dilakukan secara berulang hingga menjadi budaya.

“Yang biasanya lampu tidak dimatikan, sekarang murid mulai sadar. Kalau gurunya lupa, murid yang matikan. Yang dulunya sampah diselipin di meja, sekarang sudah dibuang ke tempat sampah. Ini yang harus kita dorong terus,” jelas Nugroho.

Lebih lanjut, Nugroho mengajak seluruh satuan pendidikan untuk melihat kerusakan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Ia menggambarkan situasi krisis lingkungan saat ini yang makin terasa akibat perubahan iklim, banjir, dan pencemaran air akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan.

“Tiga jam hujan saja, lingkungan sudah menjerit. Air tidak meresap ke tanah, saluran mampet oleh sampah, sungai penuh sedimentasi. Ini dampak dari kebiasaan yang salah. Maka dari itu, pendidikan karakter peduli lingkungan harus dimulai dari sekolah,” katanya tegas.

Menurut Nugroho, kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama juga sudah terjalin dengan baik, sehingga program GBLHS ini mencakup seluruh satuan pendidikan formal, baik sekolah maupun madrasah.

“Kami tidak membedakan sekolah umum atau madrasah. Selama mereka menjadi bagian dari sistem pendidikan di Kota Tangsel, maka mereka juga harus berproses membangun budaya peduli lingkungan. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Acara sosialisasi ini diikuti oleh para kepala sekolah, guru pembina lingkungan, serta pengelola program Adiwiyata dari berbagai sekolah di Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi teknis bersama narasumber berpengalaman, serta berbagi praktik baik antar sekolah.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh sekolah di Kota Tangerang Selatan mampu menerapkan program Adiwiyata atau GBLHS secara nyata dan berkelanjutan. Tidak hanya demi penghargaan, tetapi sebagai langkah nyata mencetak generasi peduli lingkungan dan membangun kualitas lingkungan hidup yang lebih baik di masa depan. (ADV)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button