SDABMBK Tangsel Matangkan Sistem Pengendalian Banjir 2025: Integrasi Sungai, Long Storage, Tandon, dan 35 Stasiun Pompa
Reporter: Hendra Jaya

TERASBANTEN.ID, TANGSEL — Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas SDABMBK tengah mematangkan strategi besar pengendalian banjir tahun 2025. Kepala Dinas Sumber Daya Air Bina Marga dan Bina Kontruksi (SDABMBK) Kota Tangsel, Robbi Cahyadi, menjelaskan bahwa seluruh pembangunan tahun depan difokuskan pada penguatan jaringan pengendalian banjir dari hulu hingga hilir, dengan sistem yang saling terhubung antara sungai, long storage, tandon hingga stasiun pompa. Minggu (07/12/2025).
Robbi menegaskan, 2025 adalah fase konsolidasi besar untuk memastikan seluruh infrastruktur berfungsi sebagai satu kesatuan. “Kita ingin sistem pengendalian banjir Tangsel bekerja dari hulu hingga hilir. Bukan hanya membangun satu fasilitas, tetapi membangun jaringan yang saling mendukung: sungai, long storage, tandon, hingga pompa banjir. Tahun 2025 adalah konsolidasi besar itu,” ucapnya.
Menurut Robbi, seluruh pembangunan dirancang bukan semata untuk memenuhi target infrastruktur, tetapi memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. “Ini adalah upaya mengurangi risiko serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Tangsel. Kami ingin pembangunan kembali kepada warga berupa kawasan yang lebih aman dari banjir,” tuturnya
Ia menambahkan bahwa intervensi tahun 2025 disusun berdasarkan karakteristik kawasan. Sungai diperbesar kapasitasnya, long storage dibangun sebagai penahan limpasan, tandon difungsikan sebagai penyangga, sementara stasiun pompa menjadi alat pembuang air di kawasan rendah.
“Pendekatannya harus tepat. Di wilayah rendah tidak bisa mengandalkan gravitasi saja, maka kita kombinasikan pompa, long storage, dan tandon. Semua dibangun dengan prinsip jangka panjang dan keberlanjutan,” ujar Robby.
Robbi juga menekankan bahwa pembangunan 35 unit pompa baru menjadi prioritas utama tahun depan. “Kawasan seperti Maharta, Ciputat Baru, dan Reni Jaya butuh respon cepat. Pompa ini didesain dengan kapasitas besar dan sistem kelistrikan yang lebih aman supaya bisa bekerja maksimal saat curah hujan ekstrem,” imbuhnya.
Selain pembangunan skala besar, Robbi menjelaskan bahwa SDABMBK juga menuntaskan sejumlah perbaikan teknis seperti peninggian tanggul, penataan saluran lingkungan, dan pergantian pintu air.“Langkah kecil ini sangat memengaruhi kondisi warga di lapangan. Pergerakan air bisa berubah hanya karena pintu air tidak bekerja baik. Maka semua kita benahi,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air Eka Pribawa kepada terasbanten.id, menjelaskan detail teknis rencana 2025, terutama peningkatan kapasitas sungai sebagai prioritas awal. Banyak sungai di Tangsel mengalami penurunan daya tampung akibat sedimentasi dan penyempitan. “Kami memperlebar dan memperdalam alur sungai supaya debit air besar tidak langsung meluap ke permukiman. Total panjangnya 5.155 meter di 14 titik kawasan kritis,” jelas Eka.
Ia menyebutkan, peningkatan kapasitas sungai sengaja diintegrasikan dengan pompa di beberapa titik seperti Bintaro Galeri, Citra Prima, dan Puri Flamboyan. “Sungai yang kapasitasnya lebih besar akan membuat pompa bekerja tanpa hambatan debit. Ini membuat sistem lebih efektif,” terangnya.
Eka juga memaparkan bahwa pembangunan sembilan long storage disiapkan sebagai kantong air besar untuk menahan limpasan sebelum dialirkan keluar menggunakan pompa. “Long storage adalah pengaman kedua setelah sungai. Tahun 2025 kami membangun sembilan lokasi dengan total panjang sekitar 2.100 meter,” ujarnya.
Selain itu, kawasan Puri Bintaro Indah dipersiapkan sebagai model penanganan kawasan rendah dengan kombinasi tiga sistem sekaligus: long storage, tandon, dan stasiun pompa. “Ini percontohan. Kawasan rendah harus dilindungi dengan sistem berlapis,” kata Eka.
Pada bagian tandon, fokus pembangunan tahun 2025 ditempatkan di Puri Bintaro Indah “Tandon adalah penampungan besar yang menahan air sebelum dipompa ke sungai. Kita desain berdasarkan elevasi dan kapasitas yang sesuai kondisi lapangan,” jelasnya.
Ia menegaskan tandon ini dirancang untuk kebutuhan jangka panjang menghadapi perubahan iklim dan hujan ekstrem. Eka menambahkan bahwa penambahan 35 pompa adalah solusi jangka panjang bagi wilayah padat penduduk yang selama ini sering tergenang.
“Air di kawasan rendah tidak bisa keluar sendiri, maka pompa memaksa air keluar. Ini solusi yang paling efektif untuk Maharta dan wilayah sejenis,” paparnya.
Untuk pekerjaan pendukung, Eka menjelaskan peninggian tanggul, perbaikan saluran, dan penggantian pintu air tetap menjadi bagian penting agar aliran air tetap lancar.
“Perbaikan saluran dan pintu air mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya langsung. Genangan lebih cepat surut dan aktivitas warga tidak terganggu,” tandasnya. / H3N (ADV)


